CEK FAKTA: Beredar di Medsos soal Swab Test Merusak Otak, Ini Kata Dokter RSA UGM

Ilustrasi. - Freepik
25 Juli 2020 22:07 WIB Bernadheta Dian Saraswati Cek Fakta Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Belakangan ini, kabar tentang swab test Covid-19 dapat merusak otak ramai beredar di media sosial Tanah Air. Hal itu bermula ketika netizen mengklaim tes usap hidung yang tajam telah menusuk otak dan membuatnya melakukan lobotomi.

Lalu, benarkah swab test Covid-19 dapat merusak otak?

Berdasarkan rilis yang diterima Harianjogja.com dari humas Universitas Gadjah Mada (UGM), Sabtu (25/7/2020), dokter spesialis THT Rumah Sakit Akademik UGM, dr. Anton Sony Wibowo, Sp.THT-KL, M.Sc., FICS.,menyampaikan bahwa swab test aman dilakukan dan tidak membahayakan atau merusak otak. Sebab, tes usap ini tidak akan mencapai hingga penghalang darah otak.

Dia menjelaskan bahwa lokasi penghalang darah otak relatif jauh dari lokasi anatomi tempat swab dilakukan. Selain itu, penghalang darah otak dilindungi tulang dasar otak yg relatif kuat.

“Tidak benar jika swab test Covid-19 bisa merusak otak karena hanya dilakukan sampai nasofaring atau dinding paling belakang hidung dan rongga mulut,” tegasnya saat dihubungi Sabtu (24/7/2020).

Baca Juga: 1.717 Nakes Kulonprogo Telah Dites Swab, Ini Hasilnya

Anton mengatakan swab test tidak akan merusak penghalang darah otak, kecuali pada kondisi tertentu. Misalnya, pecahnya dinding dasar otak akibat tumor atau trauma.

Swab test saat ini cukup ramai diperbincangkan karena menjadi salah satu metode dalam mendeteksi keberadaan virus corona penyebab Covid-19 pada manusia. Tes dilakukan dengan mengambil sampel lendir, dahak, atau cairan di daerah nasofaring ataupun orofaring pada pasien yang diduga terinfeksi virus corona.

“Swab test sampai sekarang menjadi diagnosis utama Covid-19 karena bisa mendeteksi keberadaan virus dalam tubuh,” tuturnya.

Selain swab test, rapid test antibodi merupakan metode lain yang banyak digunakan untuk skrining awal Covid-19. Hanya saja Anton menyebutkan bahwa tes cepat ini memiliki akurasi lebih rendah dibandingkan swab test. Pasalnya, hanya baru bisa mendeteksi antibodi dalam tubuh saja, bukan keberadaan virus corona. *