CEK FAKTA: Benarkah Ada Virus Mematikan dari Corona yang Mewabah di China?

Ilustrasi. - Freepik
21 Juli 2020 09:57 WIB Jafar Sodiq Assegaf Cek Fakta Share :

Harianjogja.com, SOLO - Media sosial dibuat ramai oleh unggahan kabar mengenai kemunculan virus baru di China. Virus ini bernama SFTS dan diklaim merupakan pembaruan dari virus lama yang telah bermutasi.

Akun @edirwanda di Instagram mengunggah gambar meme dengan watermark Blueprint Lemurian, Senin (20/7/2020). Gambar itu diolah dengan tulisan "Kabar Gembira Lagi, Muncul Virus Mematikan Dari China Bernama SFTF [salah tulis, yang benar SFTS]."

BACA JUGA : Selidiki Virus Corona, WHO Kirim Tim ke China

Meme rupanya juga diunggah Muhardy Putra Negara di Facebook 15 Juli 2020. Narasi yang dimunculkan adalah virus baru tersebut membuat China menyerah lantaran virus sudah menular dari manusia ke manusia. "Pembaruan Patch 7.15 Baru. Virus baru tiba G4 SFTS. Tombol menyerah telah dinonaktifkan."

Cek Fakta

Ditelusuri JIBI/Solopos, Blueprint Lemurian adalah akun anonim di Internet yang membahas ilmu pengetahuan dan berbagai macam konspirasi di sekitarnya. Akun ini populer di Youtube dan memiliki cukup banyak pengikut di platform jejaring sosial lain.

Pengikut akun ini bukan juga kerap membagikan ulang ulasan-ulasan aku media sosial dengan narasi yang bahkan sangat berbeda dengan aslinya. Seperti unggahan @edirwanda dan Muhardy Putra Negara yang beredar beberapa hari belakangan.

Namun unggahan meme tersebut dapat disimpulkan sebagai misinformasi. Narasi yang ditulis keliru, terutama mengenai virus STFS yang dianggap sebagai virus baru.

Virus SFTS, memang kembali merebak di China beberapa pekan terakhir. Namun, faktanya SFTS atau severe fever with thrombocytopenia syndrome bukan virus baru.

BACA JUGA : China Tuding AS Sebarkan Kebohongan soal Virus Corona

Dokumen riset berjudul Research Letter Endemic Severe Fever with Thrombocytopenia Syndrome, Vietnam di situs cdc.gov mengungkap virus ini telah diidentifikasi di China, Korea Selatan, dan Jepang sejak 2009.

SFTS ditandai oleh demam tinggi akut, trombositopenia, leukopenia, peningkatan enzim hati serum, gejala gastrointestinal, dan kegagalan multi-organ dan memiliki tingkat kematian 16,2% -30%.

Laporan Global Times mengatakan, ada makalah penelitian yang menunjukkan bahwa China telah melihat kasus serupa pada 2011 lalu. Sebuah studi yang diterbitkan di Nature edisi 2019 lalu mengatakan, antara 2011 dan 2016, ada total 5.360 kasus SFTS yang dikonfirmasi laboratorium di China.

"Sebagian besar kasus SFTS terjadi pada individu yang berusia antara 40 tahun dan 80 tahun [91,57 persen]. Jumlah negara yang terkena dampak dari 2011 hingga 2016 meningkat tajam dari 98 menjadi 167," kata penelitian tersebut.

Sebagian besar infeksi virus SFTS terjadi melalui kutu Haemaphysalis Longicornis. Meski begitu, penularan virus SFTS juga dapat terjadi melalui kontak dekat dengan pasien yang terinfeksi.

Di China virus ini kembali menjadi persoalan di Provinsi Anhui. Dilansir Outbreaknewstoday.com, 11 Juli 2020, SFTS telah menyebabkan lima orang meninggal dunia dan 23 orang lainnya dirawat di rumah sakit sejak April 2020 lalu. Menurut pejabat kesehatan China, pasien meninggal dan yang dirawat di rumah sakit wilayah Jinzhai, semuanya berasal dari Provinsi Anhui.

Sumber : JIBI/Solopos