CEK FAKTA: Mungkinkah Anak-anak Jadi Fasilitator Penyebar Covid-19?

Ilustrasi. - Freepik
16 September 2020 17:27 WIB Krizia Putri Kinanti Cek Fakta Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Sebuah pertanyaan muncul, apakah anak yang terinfeksi Covid-19 dengan kondisi sehat menjadi 'silent spreader' dari penyebaran Covid-19?

Penelitian baru di Italia bagian utara, menunjukkan kemungkinan tidak demikian. Pengujian Covid-19 yang ketat pada anak-anak dan orang dewasa yang dirawat di rumah sakit di Milan menemukan bahwa lebih dari 1% anak-anak dinyatakan positif SARS-CoV-2, dibandingkan dengan lebih dari 9% orang dewasa.

Hal itu menunjukkan tingkat infeksi tanpa gejala yang sangat rendah di antara anak-anak, dan tidak mendukung hipotesis bahwa anak-anak berisiko lebih tinggi membawa SARS-CoV-2 tanpa gejala daripada orang dewasa. Hal itu ditulis para peneliti dalam edisi online JAMA Pediatrics, dikutip dari Medical Express, Selasa (15/9/2020).

Seorang ahli penyakit menular AS berpendapat bahwa laporan itu menggembirakan. “Sejak dimulainya pandemi, sangat sulit untuk menentukan peran anak-anak yang sebenarnya dalam penyebaran virus,” kata Dr. Amesh Adalja, peneliti senior di Pusat Keamanan Kesehatan di Universitas Johns Hopkins, di Baltimore. .

Dalam studi baru, dokter yang dipimpin oleh Dr. Carlo Agostoni, dari Ca'Granda Foundation Maggiore Polyclinic Hospital di Milan, melakukan dua set tes swab, hingga dua hari terpisah, pada 214 pasien yang baru dirawat. Sebanyak 83 dari anak-anak dan 131 orang dewasa. Semua dirawat di rumah sakit pada bulan Maret dan April, pada puncak wabah Covid-19 Italia utara.

Namun, semua pasien dirawat karena alasan tidak terkait dengan Covid-19, dan tidak ada yang menunjukkan gejala penyakit lain. Jadi, berapa banyak yang secara diam-diam membawa virus? Berdasarkan swab tes, hanya 1,2% pasien anak-anak yang positif terinfeksi, dibandingkan dengan 9,2% orang dewasa.

Rendahnya tingkat penyebaran di antara anak-anak di kota dengan jumlah kasus Covid-19 yang terus meningkat menunjukkan "bahwa peran [anak-anak] sebagai fasilitator penyebaran infeksi SARS-CoV-2 dapat dipertimbangkan kembali," tutur penulis penelitian. Namun, para peneliti menekankan bahwa ini adalah sampel kecil dari hanya satu rumah sakit, jadi temuan tersebut tidak boleh dianggap pasti.

Sumber : bisnis.com