Iran Ultimatum AS: Selat Hormuz Bisa Ditutup Jika Perang Ekonomi Berlanjut
Iran mengancam memblokir pengiriman minyak melalui Selat Hormuz jika AS melanjutkan perang ekonomi terhadap Teheran.
Ilustrasi Covid-19 - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Gelombang Covid-19 subvarian BA.2.86 atau disebut Pirola menjadi sorotan karena meningkat drastis di beberapa negara. Sejauh ini, Covid Pirola diketahui terdeteksi di 10 negara, salah satunya di Asia yakni Thailand.
Sebuah unggahan di Twitter menarasikan pandemi gelombang kedua yang direncanakan tahun 2025 ternyata dimajukan menjadi 2023. Dalam unggahan tersebut, dinarasikan juga dalam satu hingga dua bulan, akan ada peraturan lockdown, Work From Home (WEH) , dan aturan pakai masker.
Berikut narasi dalam unggahan tersebut: “Pandemi 2.0 yang dijadwalkan tahun 2025, ternyata dimajukan, bukan di 2024, tetapi di 2023. Dalam sebulan dua bulan, akan ada peraturan Lockdown, WFH, dan aturan pakai Masker. Pertama agar masyarakat tidak protes, maka alasannya adalah Polusi Udara. Chemtrails terus ditaburkan, DEW dengan hasil kebakaran hutan dan gedung-gedung, Langit dibuat jadi Forecast, seakan-akan menghitam karena jelaga Batubara atau BBM.”
Namun, benarkah gelombang kedua pandemi akan dimulai akhir 2023? Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, Dr Siti Nadia Tarmizi kepada ANTARA menjelaskan bahwa pandemi bukanlah sesuatu yang bisa direkayasa karena pandemi merupakan penyakit baru.
BACA JUGA: Stok Pemain Timnas Sepak Bola Indonesia, Ketum PSSI: Segala Kelompok Umur Memadai
Seperti pada umumnya, penyakit baru sering menimbulkan fatalitas yang besar karena kita belum kenal dengan penyakitnya.
Pandemi juga bukan suatu rekayasa karena hampir semua negara terdampak dengan pandemi Covid-19. Mulai dari negara yang super power hingga negara yang lemah ekonominya.
“Kedua terkait dengan polusi, kalau kita lihat ini kondisi yang saat ini terjadi dan sudah banyak kajian ilmiah hubungan antara kualitas udara yang buruk dengan kesehatan dan karena kualitas udara tidak baik maka sebagai upaya pencegahan salah satunya penggunaan masker, WFH juga mengurangi polutan khususnya emisi kendaraan,” kata Siti Nadia Tarmizi.
Kemudian terkait dengan imbauan membeli Ivermectiin dan Hidrokloroquin, sambung dia, hingga saat ini belum ada kajian ilmiah terkait obat pencegahannya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Iran mengancam memblokir pengiriman minyak melalui Selat Hormuz jika AS melanjutkan perang ekonomi terhadap Teheran.
Dengan cakupan rute yang menjangkau wilayah Sleman hingga kawasan barat Kota Jogja, operasional Bus DAMRI Jogja–YIA diharapkan dapat mendukung mobilitas penumpa
Simak jadwal lengkap KA Bandara YIA 25 Agustus 2026. Kereta beroperasi sejak dini hari hingga malam untuk mendukung mobilitas penumpang.
Jadwal lengkap KA Prameks Jogja–Kutoarjo dan sebaliknya Selasa 25 Agustus 2026 berdasarkan data resmi KAI Access.
Cek jadwal KRL Jogja–Solo 25 Agustus 2026 dari Tugu ke Palur. Simak jam keberangkatan lengkap dan imbauan penumpang.
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja 25 Agustus 2026 dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.