Studi: Anjing Bisa Lacak Virus Corona dari Aroma di Ketiak
Anjing dapat dilatih untuk melacak orang yang terinfeksi virus Corona dengan mengendus ketiak mereka.
Tenaga medis dari Suku Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta memberikan vaksin Polio kepada balita korban vaksin palsu saat pelaksanaan vaksinasi ulang di Puskesmas Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, Senin (18/7)./Antara
Harianjogja.com, JAKARTA - Sebagian orang tua merasa ragu untuk memberikan vaksin pada anaknya, salah satunya yakni akibat adanya kontroversi seputar vaksin MMR yaitu dianggap dapat membuat anak mengalami autisme.
Apakah benar vaksin yang diberikan dengan tujuan agar tubuh terlindung dari penyakit gondong, campak, dan rubella (MMR) ini dapat membuat anak menjadi autis?
Dr. Hartono Gunardi, Perwakilan dari PrimaKu mengatakan bahwa apabila ditelisik lebih dalam lagi, imunisasi MMR sangat tidak mungkin menjadi penyebab autistic-spectrum disorders (ASD).
Baca juga: Hindari Stres saat Pandemi dengan Hobi
“Imunisasi MMR di Yokohama menurun drastis mulai 1988 sampai 1992. Pada 1993, imunisasi MMR dihentikan sama sekali. Kejadian kumulatif ASD pada anak SD umur 7 tahun pada kelompok anak yang lahir antara tahun 1988-1996, tetapi peningkatan amat drastis terjadi pada anak yang lahir setelah 1993 yang tidak mendapatkan imunisasi MMR,” ujarnya pada Konferensi Pers Virtual Peluncuran Gerakan #LengkapiVaksinasiAnak, Senin (27/7/2020).
Dia menambahkan, adapun penelitian di Denmark yang meliputi bayi yang lahir antara Januari 1991 - Desember 1999, dari 537.303 yang diteliti, 440.655 di antaranya tidak mendapatkan vaksin MMR, 96.648 mendapat vaksin MMR. Kejadian autisme atau ASD pada kedua kelompok tidak berbeda atau sama.
Baca juga: Suka Makan Kulit Ayam? Ini Manfaatnya untuk Tubuh
“Kesimpulan lainnya, penghentian imunisasi MMR tidak akan menurunkan angka kejadian autism,” katanya.
Menurut WHO, sekitar 1,5 juta anak mengalami kematian tiap tahunnya karena penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi seperti campak, gondongan, rubela dan Varisela.
Bahkan, berdasarkan data dari WHO, secara global, kasus campak pada 2019 meningkat tiga kali lebih tinggi dari 2018. Sementara itu, data program imunisasi nasional menunjukkan penurunan cakupan vaksinasi; seperti vaksin MR yang menurun 13 persen antara Januari sampai Maret 2020 jika dibandingkan dengan tahun lalu.
Disebabkan oleh situasi ini, terdapat ribuan anak berisiko mengalami kenaikan angka kejadian, komplikasi berat, hingga kematian akibat infeksi penyakit menular yang dapat dicegah melalui imunisasi seperti Campak, Gondongan, Rubela, dan Varisela.
Campak, Gondongan, Rubela, dan Varisela merupakan penyakit yang disebabkan oleh berbagai virus yang umumnya menyerang anak-anak di usia sekolah dasar dan dapat memicu penyakit lain yang berbahaya.
Varisela misalnya, memiliki kemungkinan penularan sebesar 90 persen pada individu yang rentan.Penyakit tersebut dapat mengenai seluruh kelompok umur termasuk bayi yang baru lahir, dan hampir 90 pasien dengan Varisela adalah anak usia di bawah 15 tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Anjing dapat dilatih untuk melacak orang yang terinfeksi virus Corona dengan mengendus ketiak mereka.
Pemuda 20 tahun ditangkap di Palagan Sleman setelah kedapatan membawa celurit saat dini hari dalam kondisi diduga mabuk.
Pemkot dan DPRD Kota Jogja mengalihkan kunjungan kerja ke kampung wisata untuk mendongkrak UMKM dan promosi pariwisata.
Samsung luncurkan HP refurbished Certified Re-Newed di India, Galaxy S25 Ultra bisa lebih murah hingga selisih jutaan rupiah.
Warga Sitimulyo Bantul datangi rumah lurah usai ucapan dinilai menyinggung dukuh saat kerja bakti pohon jati.
Muhammad Yusuf tersingkir di kualifikasi Malaysia Masters 2026 setelah kalah tipis 19-21 dari wakil Tiongkok dalam laga 72 menit.